Tribratanews.kepri.polri.go.id –Penulis tidak sedang membahas demo dari sudut pandang mahasiswa, pelajar dan orang- orang yang beberapa hari ini turun ke jalan. Sebagai warga Jakarta ikut merasa prihatin dengan maraknya demonstrasi yang berdampak ekonomi, berdampak buruk terhadap perilaku kaum muda dan mirisnya lagi pelajar SMK ikut turun ke jalan membawa gir, rante alat- alat untuk merusak fasilitas umum.Lebih tercekat lagi ketika mobil ambulan digunakan untuk logistik pengangkut batu untuk melempari petugas dan merusak fasilitas umum. Hebohnya lagi ambulan milik pemda DKI yang dipakai untuk logistik demo. Ahaay sungguh luar biasa negeri ini.

Situasi demo akan penuh semangat saat pagi hari, menjelang siang ketika terik mulai membakar maka mulai muncul tekanan lebih besar dan akan semakin ambyar emosinya saat senja. Bukan hanya demonstran polisi dan aparatpun pasti mulai kehilangan kesabaran dan biasanya kemarahan mudah meledak jika ada sumbunya terutama dari olok- olok demonstran. Penulis bisa merasakan karena pernah mengikuti demonstrasi di Gejayan waktu itu tanggal 8 Mei 1998. Mahasiswa dan mahasiswi bergantian memanas — manasi petugas dengan kata- kata dan rayuan. Mereka polisi dan tentara pengendali massa rata- rata umurnya sama dengan mahasiswa.Polisi juga manusia yang bisa marah, bisa kesal dan bisa “ngamuk” bila dihina- hina. Itu yang terjadi saat demontrasi. Beragamnya latar belakang demonstran memungkinkan munculnya provokator yang sengaja memanaskan situasi. Orasinya mungkin masih wajar, tetapi teriakan- teriakan provokatif bisa membuat demonstran yang sebelumnya anteng, kalem menjadi beringas seperti kerasukan setan. Apa saja menjadi sasaran.

Akhirnya ketika emosi tidak terkendali apapun dengan entengnya dirusak. Entah tiang lampu di jalanan, gedung, mobil, motor bisa menjadi sasaran amuk ketika demonstrasi masuk dalam fase  “kelelahan”.Jangan dikira polisi, pasukan pengendali massa tidak lelah, mereka lebih lelah dan semakin lelah ketika caci maki sampai ke kupingnya. Stop bicara HAM dahulu kepada yang terhormat aktivis HAM dan LSM, polisi juga manusia, mereka juga berhak mendapat perhatian karena sebagai manusia juga mempunyai hak- hak yang dihargai sebagai manusia. Polisi, Pasukan Dalmas juga bisa stres, bahkan bisa gila menghadapi tekanan massa yang beragam.Apakah para pejuang HAM pernah berpikir bagaimana jika anda menjadi tentara, menjadi polisi huru hara, pasukan pengendali massa? Maka agak aneh hari- hari ini jika ada entah mereka yang berlindung terhadap HAM mengecam aparat yang main pukul demonstran.

Jika akumulasi ejekan dan makian terhadap aparat sudah merangsang emosi sampai di luar batas maka para petugas pengendali massapun akan habis kesabarannya, mereka kemudian rentan jika ada massa yang sengaja memancing emosi sehingga pecah bentrokan dan akhirnya berakhir rusuh.Penulis bukan hendak membela polisi, tentara atau bagian dari ASN. Tetapi belajar dari pengalaman saat berada dalam lautan massa maka tidak ada yang bisa mencegah amuk massa jika titik lelah sudah berada di titik kritisnya.

Tinggal menunggu saja entah demonstran atau Pengendalinya yang bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. Tetapi peristiwa yang sudah- sudah jika demonstrasi tidak dibatasi ujung-ujungnya pasti rusuh.

Pemerintah harus sigap meminimalisir demo berkembang luas. Jika demonstrasi berlarut- larut ancaman disintegrasi bangsa akan menjadi nyata. Jika muncul gelombang demonstrasi seperti 1998 akan lebih mengerikan lagi karena dengan provokasi dari media sosial, broadcast dari WA saja secepat kilat massa bisa dikumpulkan.Semakin sering demo akan memantik kerusuhan dan jatuhnya korban. Semua pihak dirugikan, investor lari, turis kabur, perekonomian nyungsep dan negara bisa pailit atau bangkrut. Para petualang politiklah yang bertanggungjawab terhadap peristiwa rusuh yang sengaja ditunggangi untuk kepentingan makar atau pelengseran kekuasaan.Siapakah yang benar, siapakah yang salah? Apakah pemerintah DPR atau sang demonstran yang terprovokasi oleh broadcast murahan. Yang salah ya kita semua yang sering terhasut oleh isu- isu yang beredar di media sosial.

Coba semua sibuk bekerja, sibuk membangun harapan merengkuh masa depan cerah pasti tidak muncul demonstrasi. Rasanya saat ini pemilihan umum yang memilih para wakil rakyat sudah menjadi ajang perseteruan para politisi, rebutan kue kekuasaan yang menggiurkan, pasukan nasi bungkus yang rajin mengharap ada rutinitas demo sehingga ada pendapatan sampingan. Oalah… jadi ingat peribahasa Jawa …Bapa Polah anak Kepradah, gara- gara ulah ayah — ayah demonstran yang genit dan nyinyir polisi dan petugas menjadi sasaran makian serta. Anak- anak ideologi, mahasiswa yang lebih sibuk dengan gadget dan gamepun harus demo turun  ke jalan. Sambil teriak tetapi bisa melihat video…Ooow apa itu tu….alasannya “boring juga jalan, teriak- teriak sesekali sambil demo main ML… maksudnya mobile Legend.

Semoga demonstransi berakhir dan setiap orang pasti mendambakan kemakmuran dan kedamaian. Pak Polisi tetap Adem ya  menghadapi adik- adik manis yang sedang latihan menjadi politisi. Bukankah banyak aktivis, demonstran yang akhirnya nyaman duduk di kursi DPR. Fahri Hamzah, Budiman Sudjatmiko, Andi Arif, Pius Lustrilanang contohnya. Salam Damai Selalu.

Penulis : Susi
Editor   : Tahang
Publish : Tahang