Tribratanews.kepri.polri.go.id – Metode yang nggak etis seperti ini sebenarnya nggak boleh untuk dilakukan seorang buzzer atau influencer. Seharusnya, buzzer atau influencer lebih ke menginformasikan dan mengajak orang untuk bersimpati. Bukan malah sebaliknya.

Jadi apakah buzzer dan influencer merupakan profesi? 

Kalau untuk profesi utama masih prematus karena buzzer atau influencer adalah pekerjaan di bidang pemasaran, yang biasanya bekerja sama dengan pihak marketing komunikasi perusahaan.  Orang dengan beragam profesi bisa menjadi buzzer atau influencer jika memenuhi kriteria klien.

Justru, untuk bisa menjadi influencer atau buzzer orang harus memiliki pencapaian atau karya tertentu. Misalnya, menjadi blogger dan vlogger dengan karya yang keren, ahli di bidang tertentu (fotografer, makeup artist, chef, musisi), atau olahragawan yang berprestasi. Sebaliknya, kalau hanya “berprofesi” sebagai influencer atau buzzer dengan hanya bermodalkan banyak followers serta tampilan menarik (apalagi dengan modal banyak drama), namun tanpa melakukan sesuatu, pasti nggak akan bertahan lama. Institusi/ Perusahaan bergengsi pun ogah menjalin kerja sama dengan yang seperti ini.

Di sisi lain, menjadi buzzer dan influencer bisa sangat menyenangkan karena bisa ikut serta mempromosikan sesuatu, menjadi bagian dari proses marketing suatu Institusi/ Perusahaan. Apalagi kalau ada kampanye yang positif dan bisa mengubah masyarakat jadi lebih baik. Belum lagi penghasilan yang diperoleh. Semakin besar followers dan pengaruh yang diberikan, serta semakin bagus konten yang bisa dihasilkan, akan meninggikan harga seorang buzzer atau influencer.

Tips menjadi buzzer dan influencer yang sukses

  • Jangan jadikan pekerjaan buzzer dan influencer sebagai pekerjaan utama. Menjadi buzzer dan influencer adalah efek dari karya yang kamu kerjakan atau skill yang kamu kuasai. Jadi, terus lah berkarya dan mempertajam skill.
  • Pelajari content creating, karena sebagai buzzer atau influencer kamu mesti bisa menampilkan konten yang menarik sekaligus berfaedah. Ini akan menjadi nilai jual kamu, lho.
  • Kamu juga harus paham prinsip-prinsip marketing komunikasi, karena job desc seorang buzzer terkait erat dengan marketing. Coba baca-baca buku marketing populer (yang mudah dimengerti) dan banyak ngobrol dengan orang yang kompeten.
  • Jangan asal terima order. Selain memperhatikan aturan main dan ketentuan yang diminta, kamu juga harus memastikan apakah produk/kampanye tersebut sesuai dengan diri kamu.
  • Kuasai product knowledge. Gimana kamu bisa promosi dan mempengaruhi orang lain, kalau pengetahuanmu pada produk yang lagi di-buzz sendiri cetek. Misalnya, jangan sampai kamu promosiin handphone brand X, tapi fitur unggulan dari produk tadi malah nggak kamu bahas. Alhasil, apa yang diinginkan klien justru tak tersampaikan dengan baik.
  • Saya selalu percaya kekuatan marketing Menjelekkan competitor adalah perilaku nggak efektif dan nggak etis, dan nggak oke juga untuk image kamu.
  • Miliki perangkat elektronik yang mumpuni. Karena tugas sebagai influencer dan buzzer kebanyakan berkutat dengan konten digital dan internet, maka kamu harus memiliki perlengkapan perang yang mendukung. Wajib punya laptop, desktop pc atau smartphone yang dapat diandalkan. Selain itu, fitur kamera yang keren merupakan bonus yang sangat membantu.
  • Jaga hubungan baik dengan berbagai pihak. Baik klien, rekan kerja, maupun followers Berikan respon kepada mereka, bukan komunikasi searah.
  • Update dengan perkembangan teknologi. Kamu harus tahu perkembangan teknologi, terutama fitur terbaru medsos, supaya kamu bisa memanfaatkannya untuk melakukan tugas kamu sebagai buzzer/influencer.
  • Harus produktif bikin konten. Jangan isi medsos/blog/vlog kamu hanya promo saja.

Pekerjaan sebagai influencer dan buzzer kini memang menjanjikan, namun harus disertai dengan tanggung jawab dan sikap yang profesionalis. Ke depannya, pekerjaan ini akan terus berkembang, bahkan berevolusi. Bisa jadi channel ke depannya bukan medsos, tapi ada tren baru lainnya. Nah, seorang yang bekerja sebagai buzzer, influencer, dan marketing komunikasi tentunya harus bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Bila peran buzzer dan influencer  mampu kita lakukan, maka bukan hanya sekedar diri kita saja yang terpandang citranya di publik tapi  Institusi/ Perusahaan akan memiliki citra positif di mata publik. Semoga.

Penulis : Tahang

Editor : Edi

Publish : Yolan