Tribratanews.kepri.polri.go.id – Perkembangan teknologi informasi membuka bidang pekerjaan dan job desk baru, di antaranya adalah buzzer dan influencer. Apakah buzzer dan influencer tergolong profesi? Katanya buzzer itu yang suka ngomongin politik dukung anu-inu? Biar nggak salah kaprah tentang buzzer dan influencer, baca dulu selengkapnya.

Buzzer, Influencer, Buzz Marketing, dan Influencer Marketing

Sosok buzzer dan influencer berasal dari teknik pemasaran yang dikenal dengan buzz marketing dan influencer marketing. Buzz marketing adalah teknik pemasaran dengan membuat sesuatu menjadi viral dan diperbincangkan. Sedangkan influencer marketing adalah cara pemasaran melalui sosok/institusi yang memiliki pengaruh pada target konsumen dan punya karakter kuat yang sesuai dengan brand.

Maka buzzer bisa diartikan sebagai orang yang memberi info atau mempromosikan sesuatu, sehingga jadi ramai dibicarakan. Biasanya, untuk menjadi buzzer seseorang harus memiliki popularitas dan pengaruh. Bukan berarti harus beken seantero nusantara, sih. Tapi berpengaruh di kalangan tertentu.

Sedangkan influencer adalah orang yang bisa mempengaruhi orang lain lewat apa yang ia sampaikan, lakukan, atau tunjukkan. Walau pengertiannya nggak seratus persen sama, tapi  buzzer atau influencer sering dianggap sama.

Diperkirakan 92 persen konsumen percaya dengan rekomendasi dari orang lain mengenai suatu brand. Walaupun rekomendasi tersebut dari orang yang mereka belum kenal. Konten blog dan medsos juga mempengaruhi tren dan minat konsumen terhadap produk. Inilah yang menyebabkan buzzer dan influencer penting bagi marketing.

Buzzer dan influencer seringkali diasosiasikan dengan media sosial. Soalnya, salah satu media promosi zaman sekarang yang efektif dan praktis adalah medsos. Walaupun demikian, channel-nya nggak cuma Twitter, Instagram, Path, Facebook atau media sosial lainnya, kok. Bisa juga melalui video Youtube, blog, website, event promosi off air, hingga promosi di media “tradisional” seperti televisi dan radio. Tapi biasanya, meskipun influencer dan buzzer melakukan kegiatan di blog atau off air, mereka tetap update di medsos.

Apa saja yang bisa disampaikan serta dipromosikan buzzer/influencer?

Banyak! Mulai dari produk, jasa, kampanye, kegiatan, gerakan, dan lain sebagainya. Kebanyakan info atau promo yang dilakukan adalah untuk tujuan pemasaran dan bermotif ekonomi. Namun ada pula yang untuk membangun image/citra sebuah Institusi.   Misalnya, kampanye gerakan rumah membaca yang disponsori Institusi A, atau beasiswa dari Institusi B.

Ada juga yang melakukan proyek pure sosial, atas dorongan pribadi. Misalnya, si buzzer A atau influencer X getol mengkampanyekan literasi narkoba di kalangan anak muda. Tidak ada sponsor atau yang meminta, tapi dia sendiri yang secara sukarela melakukan hal tersebut karena merasa memiliki visi dan tujuan yang sama.

Nah, gimana dengan “buzzer politik”?

Belakangan, istilah buzzer politik ramai dibicarakan dan memiliki konotasi yang cenderung negatif. Ada orang-orang yang memiliki aspirasi politik tertentu dan menyuarakannya. Ada buzzer yang memang dipekerjakan secara profesional untuk mengkampanyekan program suatu kandidat atau partai. Ada juga yang keduanya, secara pribadi mendukung, dan secara profesional dilibatkan dalam program kampanye.

Yang jadi masalah adalah bila kampanye/aspirasi disuarakan dengan kasar, menyinggung pihak lain, atau mengandung hoax. Hal yang juga mengganggu dan mencoreng nama buzzer adalah adanya akun anonim yang menjadi “buzzer” politik, dengan menampilkan konten yang provokatif. Belum lagi akun-akun nggak jelas, yang “ditugaskan” melambungkan hashtag tertentu. Dengan membabi buta, mereka pun posting hashtag tersebut.

Penulis : Gilang

Editor : Nora

Publish : Tahang