Tribratanews.kepri.polri.go.id – Pendidikan moral juga dapat diartikan sebagai suatu konsep kebaikan yang diberikan atau diajarkan kepada seseorang (dapat dibaca: peserta didik) untuk membentuk budi pekerti yang luhur, beraklhak mulia dan berperilaku terpuji seperti terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945.

Jadi, membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan agar dengan memiliki kapasitas moralitas yang tinggi seseorang bisa membedakan yang benar dan mana yang salah, sehingga dengan kecerdasan moral yang ada seseorang dapat menangkal atau menangkis pengaruh buruk baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Kecerdasan moral adalah suatu bentuk evaluasi setiap orang atas apa yang benar dan apa yang salah yang pantas untuk dilakukannya bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri namun juga untuk kepentingan orang lain. Atas dasar ini dapat dimaknai bahwa tantangan dari kecerdasan moral bukan hanya untuk mengetahui yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk bagaimana bertindak yang benar dan berbuat yang baik.

Selain itu manusia pada dasarnya tidak selalu senang dan setuju dengan apa yang baik dan benar sekalipun sebenarnya sangat menginginkan apa yang baik dan benar sebab bentuk kesetujuannya terkadang hanya didasarkan pada kalkulasi keuntungan yang akan diterima. Dalam hal ini paradigma terhadap apa yang baik dan benar cenderung menjadi relatif dan kabur dan bukan lagi berdasarkan kalau ya katakan ya dan kalau tidak katakan tidak namun yang ada hanyalah “bisa jadi ya bisa jadi tidak.”

Kecerdasan moral yang sifatnya termuat dalam nilai-nilai yang diwariskan secara turun temurun secara yang langsung mendasari kecerdasan manusia yang lain untuk berbuat sesuatu yang baik dan benar menujuh tujuan-tujuannya. Bisa dikatakan tanpakecerdasan moral, manusia tidak dapat berbuat sesuatu dengan tepat baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan. Namun kadang-kadang manusia mencoba menerobos dan meruntuhkan paradaigma dan nilai-nilai yang diwariskan sejak duluh yang kaya dengan pesan-pesan moral dengan alasan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Kecerdasan Spiritual (SQ)

Kecerdasan Spritual atau Spiritual Quotient (SQ) adalah sumber yang mengilhami dan melambungkan semangat seseorang dengan mengikatkan diri pada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu. Kecerdasan ini digunakan untuk membedakan baik dan buruk, benar dan salah, dan pemahaman terhadap standar moral.

Adalah Donah Zohar dan Ian Marshall dua nama yang selalu disebut ketika dihadirkan konsep kecerdasan spiritual. Dalam karyanya SQ: Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence, yang diterbitkan awal tahun 2000, Zohar dan Marshall mendakwakan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih dalam, lebih luas, dan lebih transenden daripada kecerdasan moral.

Secara lebih khusus, Zohar (2001) mengidentifikasikan sepuluh kriteria mengukur kecerdasan Spiritual seseorang, yaitu:

  • Kesadaran Diri
  • Spontanitas, termotivasi secara internal
  • Melihat kehidupan dari visi dan berdasrkan nilai-nilai fundamental
  • Holistik, melihat sistem dan universalitas
  • Kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan)
  • Menghargai keragaman
  • Mandiri, teguh melawan mayoritas
  • Mempertanyakan secara mendasar
  • Menata kembali dalam gambaran besar
  • Teguh dalam kesulitan

Ciri-ciri dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang dalam diri seseorang adalah sebagai berikut  (Zohar, 2001):

  • Kemampuan bersifat fleksibel
  • Tingkat kesadaran diri yang tinggi
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
  • Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
  • Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
  • Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
  • Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal
  • Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana” jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
  • Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri, yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Menurut  (Khavari, 2010),  ada  beberapa  aspek  yang menjadi dasar kecerdasan spiritual, yaitu:

  • Sudut  pandang  spiritual-keagamaan,  artinya  semakin  harmonis  relasi spiritual-keagamaan  kita  kehadirat Tuhan,  semakin  tinggi  pula tingkat dan kualitas kecerdasan spiritual kita.
  • Sudut  pandang  relasi  sosial-keagamaan,  artinya  kecerdasan  spiritual harus  direfleksikan  pada  sikap-sikap  sosial  yang  menekankan  segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial.
  • Sudut  pandang  etika  sosial.  Semakin  beradab  etika  sosial  manusia semakin berkualitas kecerdasan spiritualnya.

Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak umat manusia untuk cerdas dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spititualnya. Kehidupan spiritual di sini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningful life).

Kecerdasan spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang taat beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Acapkali mereka memiliki sikap fanatisme, ekslusivisme, dan intoleransi terhadap pemeluk agama lain sehingga mengakibatkan permusuhan dan peperangan. Namun sebaliknya, bisa jadi seseorang yang humanis-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga sikap hidupnya inklusif, setuju dalam perbedaan (agree in disagreement), dan penuh toleran. Hal itu menunjukkan bahwa makna spirituality (keruhanian) di sini tidak selalu berarti agama atau ber-Tuhan.

Dari seluruh penjelasan tersebut, yang dapat kita ambil maknanya  adalah bahwa bagaimana seluruh konsep kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral dan kecerdasan spritual mampu menjadi pendorong bagi kita untuk berkarya lebih baik dan lebih benar lagi dimasa mendatang.

Penulis : Gilang

Editor : Nora

Publish : Tahang