Tribratanews.kepri.polri.go.id – Fungsi dan peranan kedua otak tersebut adalah sebagai berikut:

Otak kiri
(Left Hemisphere) Otak kanan
(Right Hemisphere)
Matematika, sejarah, bahasa Persepsi, intuisi, imajinasi
Konvergen (runtut), sistematis Divergen
Analitis Perasaan
Perbandingan Terpadu, holistic
Hubungan Perasaan
Linear Non linear
Logis Mistik, spiritual
Scientific Kreatif
Fragment Rasa, seni

Kecerdasan emosional diakui sebagai suatu kemampuan yang pengaruhnya terhadap individu serta Intelegence Quotient (IQ), dalam pengertian bahwa setiap orang tidak hanya dituntut untuk mengandalikan kecerdasan intelegensi saja, namun juga sebenarnya dia harus mempergunakan kecerdasan emosional dalam menghadapi problem kehidupan yang dijalani. Faktanya tidak sedikit individu yang memiliki Intelegence Quotient (IQ) tinggi mengalami kegagalan dalam upaya mengentaskan problema kehidupan, hanya karena tidak memiliki emosional (EQ) yang mantap.

Mahmud Al-zaki mengemukakan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat dengan kecerdasan uluhiyah (ke-Tuhan-an). Jika seseorang tingkat pemahaman dan pengalaman nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tinggi dalam hidupnya, maka berarti dia telah memiliki kecerdasan emosional yang tinggi pula. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Abdul Rahman Al-Aisu, yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan ke-Tuhan-an.

Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional dan spiritual, yaitu:

1) konsistensi (istqomah);
2) kerendahan hati (tawadhu’);
3) berusaha dan berserah diri (tawakkal);
4) ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah);
5) keseimbangan (tawazun); dan
6) integritas dan penyempurnaan (ihsan).

Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya memiliki lima aspek kemampuan, yaitu:

1) kemampuan mengenali emosi diri;
2) kemampuan menguasai emosi diri;
3) kemampuan memotivasi diri;
4) kemampuan mengenali emosi orang lain; dan
5) kemampuan mengembangkan hubungan dengan orang lain.

Kecerdasan Moral (MQ)

Kecerdasan moral adalah kemampuan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia.

Indikator kecerdasan moral adalah bagaimana seseoarang memiliki pengetahuan tentang moral yang benar dan yang buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang benar ke dalam kehidupan nyata dan menghindarkan diri dari moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral sedangkan orang jahat merupakan orang yang idiot moral. Kecerdasan moral tidak bisa dicapai dengan menghafal atau mengingat aturan yang dipelajari, melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar.

Menurut Abdul Mujib sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2001 : 92), kecerdasan moral tidak bisa dicapai dengan menghafal atau mengingat kaidah atau aturan yang dipelajari di dalam kelas melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar. Ketika seorang anak berinteraksi dengan lingkungan, maka dapat diperhatikan bagaimana sikap yang diperankan, penuh belas kasih, adanya atensi, tidak sombong atau angkuh, egois atau mementingkan diri sendiri dan sejumlah sikap lainnya.

Michele Borba dalam bukunya Membangun Kecerdasan Moral memaparkan tujuh (7) langkah utama untuk membangun kecerdasan moral seseorang, yakni:

  • Mengembangkan sikap empatidengan turut memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain secara mendalam, peka terhadap kebutuhan orang lain, mmperlakukan orang dengan kasih sayang, dam bertindak dengan benar dalam menyatakan pertolongan kepada orang lain.
  • Menumbuhkan hati nurani yakni membangun moral seseorang untuk dapat memilih jalan yang benar jalan yang bermoral sebagai fondasi bagi perkembangan sifat jujur bertanggungjawab, dan berintegritas yang tinggi.
  • Menumbuhkan control diri, yakni berupaya memprioritaskan mana yang dianggap benar, berpikir matang sebelum mengambil keputusan, sehingga memiliki sifat yang baik hati, menghindari sifat egoistis.
  • Membangun sikap rasa hormat terhadap orang lain sehingga ia terarah pada cara memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan orang lain sehingga ia senantiasa berupaya bertindak adil, lembut, dan memperhatikan hak-hak orang lain.
  • Menumbuhkan sikap kebaikan hati dengan menunjukkan kepedulian terhadap orang lain melalui sikap belas kasih sekaligus membantu orang lain yang menurutnya pantas untuk diperdulikan.
  • Mengembangkan sikap toleransi dengan menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain, membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru, tidak membeda-bedakan suku, gender, mmperlakukan orang dengan baik dan penuh pengertian, menentang permusuhan dan kekejaman, namun menghargai orang lain berdasarkan karakter mereka.
  • Mengembangkan keadilan dengan memperlakukan orang lain dengan baik, tidak memihak, mematuhi aturan, bersedia berbagi, terbuka terhadap pandangan orang lain, dan memperlakukan semua orang lain secara setara.

Dari ketujuh hal tersebut di atas merupakan bagian yang integral yang tidak bisa dipisahkan antar satu dengan yang lain namun merupakan satu kesatuan untuk membangun kecerdasan moral yang utuh. Pertumbuhan moral merupakan suatu proses yang terus menerus berkelanjutan sepanjang hidup sama halnya pendidikan yang terus menerus berlangsung dalam kehidupan manusia selama manusia itu masih hidup (life long education). Adanya proses pertumbuhan moral yang terus menerus berlangsung dalam kehidupan manusia maka seharusnya kapasitas moral seseorang dari waktu ke waktu meningkat. Michele Barba mengatakan bahwa dengan meningkatnya kapasitas moral seseorang yang didukung dengan kondisi yang baik seseorang akan berpotensi memiliki moralitas yang lebih tinggi seperti disiplin, rendah hati, berani, sederhana, integritas, pengasih, dan altruisme.

Hamid Darmadi menambahkan bahwa untuk perekembangan moral seseorang  secara individu melalui beberapa tahap pengorientasian berikut:

  • Orientasi penghukuman dan kepatuhan
  • Orientasi nisbi instrumental
  • Orientasi kesejajaran interpersonal
  • Orientasi pemeliharaan otoritas dan tata kemsyarakatan
  • Orientasi persetujuan masyarakat secara legal
  • Orientasi asas-asas etika universal

Untuk mengembangkan kecerdasan moral selain membangun tujuh (7) sikap sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka dikembangkanlah pendidikan moral. Ada pun makna dasar konsep pendidikan moral adalah bertujuan membantu seseorang (dapat dibaca: peserta didik) untuk mengenali nilai-nilai dan menempatkannya secara integral dalam konteks keseluruhan hidupnya. Hal ini berarti pendidikan moral dimaksudkan untuk membantu seseorang  untuk dapat mengaktualisasikan diri dengan tepat yang berorientasi dalam pedoman atau aturan yang baik dan benar yang manusiawi.

Penulis : Gilang

Editor : Nora

Publish : Tahang