Tribratanews.kepri.polri.go.id – Meski tak sepenuhnya mengandung kebenaran, perumpamaan ini bolehlah dijadikan jembatan untuk memahami fenomena berikut, “Terlalu banyak mengonsumsi bacaan instan itu ibarat terlalu banyak menyantap mi instan”.

Hal itu, kurang menyehatkan sehingga perlu diimbangi dengan mengonsumsi santapan yang lebih bergizi.

Di era kultur media sosial dengan fasilitas telepon genggam cerdas, berbagai bahan bacaan, tontonan yang bisa memperkaya pengetahuan dan meluaskan wawasan begitu berlimpah.

Bacaan dan tontonan sepotong-sepotong, yang diformat dengan ringkas, tanpa kedalaman, bersifat menghibur bisa dikaterogikan sebagai literasi instan.

Di Facebook setiap orang bisa menemukan kisah-kisah pengalaman keseharian maupun yang unik yang disampaikan dengan ringkas, menginspirasi dan tak jarang bermuatan humor yang kadang lucu, setengah lucu, maupun tak lucu.

Petuah-petuah keagamaan juga bertebaran di media sosial. Pengalaman nyata yang mengajak warganet untuk bersimpati dan berbagi pada mereka yang menderita, memerlukan pertolongan juga tak kurang jumlahnya.

Bagi warganet yang sudah bertahun-tahun dan terbiasa menyantap literasi instan semacam itu tentu membutuhkan tekad kuat untuk meluangkan waktu menyimak bacaan yang lebih mendalam dan menuntut kesabaran yang tinggi.

Tanpa kemauan dari dalam diri masing-masing pribadi, seruan untuk meningkatkan tahap yang lebih jauh dalam mengonsumsi literasi yang noninstan buat publik hanya akan menghasilkan kesia-siaan.

Kesia-siaan itu bisa dihindari untuk mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Sebab, seruan itu diperkuat oleh kewajiban yang jika tak dilaksanakan oleh siswa akan diganjar dengan nilai yang buruk.

Sebetulnya ada strategi yang bisa dipakai oleh pemerintah untuk melawan kultur literasi instan itu. Yaitu sudah saatnya pemerintah lebih menggiatkan lagi literasi melalui perpustakaan yang menyajikan sumber ilmu pengetahuan yang teruji dan bertanggung jawab, disamping memang sangat diperlukan membentengi diri dari literasi instan yang kurang valid dengan senantiasa mere-literasi kembali segala ilmu pengetahuan khususnya yang didapat dari dunia maya sebelum diserap, dihayati kemudian diamalkan.

Penulis : Gilang

Editor : Tahang

Publish : Tahang

Klik Icon Untuk Sharing