Tribratanews.kepri.polri.go.id – Empati berasal dari bahasa Yunani, kombinasi en (di, pada) dan pathos (perasaan, penderitaan). Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary, empati adalah kemampuan memahami orang lain (perasaannya, kebutuhannya, pengalamannya, dll.). Yang memerlukan kemampuan ini bukan hanya anggota Polri, tetapi setiap orang. Dalam uraian ini, yang ditekankan adalah bagaimana anggota polri dapat meningkatkan empati terhadap masyarakat, sehingga masyarakat juga berempati terhadap Polri.

Perlu ditekankan di sini bahwa polisi yang memiliki empati bukanlah polisi yang lembek dan main perasaan. Justru sebaliknya: Polisi yang berempati memiliki dua ciri yang saling berhubungan:

Pertama, setia melaksanakan tugas pokok dan fungsi profesi polisi.

Kedua, peduli terhadap, dan memahami, kebutuhan, keprihatinan, dan keinginan masyarakat.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Sebagai bagian dari kecerdasan emosi (emotional intelligence), empati menurut Daniel Goleman terdiri dari beberapa ciri berikut:

  • Memahami orang lain
  • Mengembangkan orang lain
  • Berorientasi pelayanan
  • Memanfaatkan kepelbagaian
  • Kesadaran politik
  1. Memahami orang lain

Kadang-kadang, kita ingin orang lain memahami kita, tapi kita tidak berusaha memahami orang lain. Empati menekankan perlunya memahami orang lain, termasuk masalahnya, keprihatinannya, kebutuhannya, kepentingannya, perasaannya, dan perspektifnya. Ini merupakan unsur empati yang paling sering disebutkan.

Salah satu mekanisme yang paling tepat supaya polisi memahami masyarakat ialah dengan perjumpaan dan dialog dengan anggota masyarakat dari berbagai latar belakang. Dialog dan perjumpaan ini mencakup pembicaraan dan sharing yang lebih dalam dari sekedar basa-basi, karena tujuannya adalah memahami. Dalam perjumpaan dan dialog polisi-masyarakat ini, polisi dapat juga menjelaskan kepada masyarakat mengenai tugas dan fungsi polisi.

  1. Mengembangkan orang lain

Kalau kita mengerti orang lain, kita dapat mengembangkan dan meningkatkan orang lain tersebut. Seorgan pimpinan dalam organisasi Polri yang mengerti keadaan anak buahnya akan dapat mengembangkan anak buahnya sehingga kapasitas dan kinerjanya semakin meningkat. Semakin cepat anak buah berkembang, semakin cepat meraka ”menyundul” kita dari bawah, sehingga sang pemimpin lebih tinggi dan naik prestasinya.

Dalam kaitannya dengan masyarakat, mengembangkan orang lain berarti kemampuan anggota Polri mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat supaya keadaan meningkat, misalnya tindak pidana berkurang, kerjasama sosial berkembang, dan suasana saling percaya tumbuh di masyarakat. Kemudian, polisi membantu masyarakat mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Polisi juga dapat memberikan penghargaan bagi masyarakat atau unsur masyarakat yang berhasil dalam hal tertentu.

  1. Berorientasi pelayanan

Polisi sering menggambarkan diri sebagai ”pelayan masyarakat.” Ini sudah tepat dan selaras dengan empati. Polisi perlu memahami, mengenal, dan memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang dilayani. Yang perlu diusahakan adalah bagaimana supaya anggota polisi setia kepada tugas ini dan tidak menciderai dan menghianatinya. Kalau ada masyarakat yang mendatangi kantor polisi, polisi harus melayaninya sehingga warga masyarakat tersebut merasa dihargai.

Ketika melayani masyarakat, beberapa hal perlu dihindari. Yang pertama, anggota Polri perlu bertindak adil dan tanpa pandang bulu, karena pelayanan terhadap masyarakat memang harus adil dan tanpa pandang bulu. Jika tidak, namanya bukan pelayanan melainkan diskriminasi. Yang kedua, polisi perlu menghindari bias supaya tidak memengaruhi keputusan dan tindakan polisi. Bias tersebut bisa bersumber dari agama, pandangan terhadap golongan atau ras tertentu, atau pandangan terhadap kelompok masyarakat tertentu seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender.

  1. Memanfaatkan kemajemukan

Masyarakat pada umumnya majemuk, terdiri dari berbagai latar belakang suku, agama dan aliran kepercayaan, kelompok umur, gender, gaya hidup, aliran politik, kebutuhan, status ekonomi dan sosial, dan lain-lain. Selain itu, ada warga masyarakat yang jiwanya sehat, ada yang kurang sehat. Ada yang normal, ada yang berkebutuhan khusus karena menyandang disabilitas.

Polisi perlu memahami kepelbagaian di masyarakat. Untuk itu, polisi dapat melakukan pemetaan kepelbagaian dan kemajemukan di lingkungan kerja Polri. Hasilnya dibicarakan bersama dan digunakan dalam rangka melaksanakan tugas profesi Polri. Individu dan kelompok yang berbeda di masyarakat harus mendapatkan perhatian dan perlindungan yang setara, sehingga masing-masing berada pada posisi yang terbaik – tidak ada yang mengalami penindasan dan diskriminasi. Dengan demikian, kemajemukan dan kepelbagaian di masyarakat menjadi peluang dan modal membangun kondisi masyarakat yang lebih baik.

  1. Kesadaran politik

Di masyarakat Indonesia, seperti disebutkan di atas, ada banyak kelompok warga yang memiliki latar belakang berbeda. Seorang anggota polisi disebut memiliki kesadaran politik apabila dia menyadari dan mengetahui beberapa implikasi situasi tersebut, khususnya yang akan memengaruhi kinerja polisi. Beberapa ciri yang dapat diterakan di sini adalah:

Pertama, polisi mengetahui relasi dan hubungan kekuasaan di antara berbagai kelompok dan kekuatan sosial-politik di masyarakat, termasuk partai politik. Kedua, polisi mengumpulkan bahan dan informasi mengenai pola-pola hubungan kerjasama dan konflik di masyarakat. Ketiga, mengidentifikasi apa saja sumber konflik dan ketegangan yang dapat menimbulkan tindak pidana atau kekerasan kelompok di masyarakat.

Meningkatkan Empati

Perlu diperhatikan bahwa kemampuan empati bukanlah hal yang baru bagi manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Kalau ada beberapa bayi di rumah sakit yang baring berjejer, dan salah seorang mulai menangis, maka yang lain akan ikut menangis. Mengapa? Karena bayi memiliki empati terhadap sesama bayi. Jadi, kita sudah mempelajari empati sejak kita bayi. Ketika ada gempa bumi yang disertai tsunami di Aceh, masyarakat lain di Indonesia dan di luar Indonesia beramai-ramai datang memberikan bantuan kemanusiaan. Mengapa? Karena manusia memiliki empati terhadap penderitaan sesama manusia.

Bahkan, dengan bantuan teknologi komunikasi yang ada sekarang, kapasitas empati manusia dapat disalurkan dengan lebih cepat. Dalam tempo sejam setelah gempa di Haiti, twitter memungkinkan orang menyampaikan musibah tersebut dengan cepat. Dalam waktu dua jam, telepon seluler digunakan menyebarkan berita dan video mengenai musibah tersebut sudah diunggah ke youtube dan dapat dilihat dari berbagai belahan bumi. Dalam waktu tiga jam, masyarakat internasional sudah siap berangkat memberikan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan para korban bencana Haiti.

Oleh sebab itu, seorang pemikir terkenal, Jeremy Rifkin, mengatakan bahwa umat manusia adalah makhluk empati (homo empathicus), dan bahwa peradaban manusia adalah peradaban empati, yang terus berkembang. Empati pada mulainya berkembang di dalam keluarga, kemudian dalam kelompok manusia yang lebih besar seperti suku, dan kemudian berkembang lagi dalam unit yang lebih besar seperti agama. Di dalam era moderen, empati berkembang dalam bentuk negara moderen, dan sedang berkembang dalam konteks global peradaban manusia kontemporer.

Apa yang dapat dilakukan meningkatkan empati di dalam tubuh Polri? Berikut ini beberapa gagasan yang perlu dipertimbangkan.

  1. Mengembangkan empati dalam demokrasi Indonesia. Di atas disebutkan bahwa usaha meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap polisi akan ditentukan suasana dan tingkat kepercayaan secara keseluruhan. Begitu pula, usaha meningkatkan empati di dalam tubuh Polri dan di masyarakat akan dipengaruhi empati di dalam kehidupan demokrasi yang lebih luas. Di sinilah pentingnya membina empati dalam kehidupan demokrasi kita.
  2. Meninggalkan model pemolisian yang terlalu bertumpu pata otoritas (model otoriter). Tindakan anggota polisi sangat memengaruhi apakah empati akan berkembang atau merosot, apakah kepercayaan terhadap polisi akan meningkat atau turun. Jika polisi bertindak semena-mena, menyalahgunakan wewenang, gampang menggunakan kekerasan (termasuk kekerasan senjata), maka empati akan sulit berkembang. Beberapa model pemolisian yang memungkinkan berkembangnya empati di lingkungan Polri dapat dicoba supaya terjadi perubahan positif ke arah pemolisian empati. Salah satu di antaranya adalah model pemolisian demokratis (democratic policing). Model lain adalah mengintegrasikan “restorative justice” ke dalam lembaga Polri.
  3. Mengembangkan empati di dalam tubuh organisasi Polri. Empati bermula dari diri sendiri, dalam hal ini organisasi Polri. Pimpinan Polri di berbagai level dan satuan harus berempati terhadap para bintara, yang merupakan sebagian besar anggota Polri. Pimpinan perlu melindungi dan memberikan arahan yang jelas terhadap bawahan, memberikan perlindungan dan back-up bagi petugas di lapangan, dan bertanggungjawab terhadap kinerja anak buah. Beberapa unsur pengertian empati yang disebutkan di atas, khususnya memahami dan mengembangkan orang lain, perlu menjadi kebijakan pimpinan.
  4. Meningkatkan keterampilan mendengar. Salah satu keterampilan mikro yang diperlukan dalam meningkatkan kepercayaan dan empati adalah mendengar. Polisi harus mengurangi bicara dan memperbanyak mendengar, supaya kapasitas empatinya meningkat. Keterampilan mendengar adalah bagian dari keterampilan berkomunikasi dan karenanya anggota Polri perlu dibekali keterampilan komunikasi efektif.
  5. Ketika patroli, seringlah berhenti dan berbicara dengan warga. Patroli dapat dilakukan dengan berkeliling kota dan desa di atas mobil tanpa berhenti. Tetapi, patroli dapat juga dilakukan sambil berhenti di berbagai tempat yang memungkinkan polisi berbicara secara informal dan akrab dengan warga. Ketika berhenti dan berbicara dengan masyarakat, yang diajak berbicara jangan hanya tokoh masyarakat, tetapi berbagai kalangan, termasuk yang curiga atau kurang mendukung tugas polisi. Selain itu, ketika berbicara dengan warga, anggota polisi perlu meyakinkan warga bahwa anggota Polri bekerja dengan profesional, tanpa pandang bulu, dan penuh rasa hormat terhadap seluruh warga.
  6. Memperbaiki penampilan polisi di masyarakat dalam rangka meningkatkan empati. Salah satu yang perlu ditingkatkan adalah meningkatkan kehadiran dan keterlihatan polisi di masyarakat. Semakin sering polisi tampil dan kelihatan di masyarakat, semakin berkurang kekuatiran masyarakat terhadap tindak kejahatan, dan semakin percaya masyarakat terhadap polisi. Polisi juga dapat mempertimbangkan beberapa aspek penampilan lain: Apakah polisi melakukan patroli dengan naik sedan, naik sepeda, atau jalan kaki? Apakah polisi menggunakan sirene yang suaranya memekakkan telinga atau yang suaranya lebih menenangkan? Apakah polisi mengenakan seragam dan peralatan yang militeristik atau yang lebih simpatik? Kapan polisi wanita, dan bukan polisi laki-laki, lebih tepat dikerahkan dan ditugaskan?
  7. Mendorong meningkatnya empati di lingkungan komunitas lokal. Polisi, melalui tugas pengayoman dan bimbingan masyarakat, dapat meningkatkan empati di masyarakat, baik terhadap sesama anggota masyarakat maupun terhadap anggota dan lembaga kepolisian. Ketika bertemu dengan tokoh masyarakat, polisi dapat membicarakan bagaimana polisi dan tokoh masyarakat dapat bekerja sama meningkatkan kerukunan dan kerjasama sosial di masyarakat. Ini akan mengurangi suasana tidak percaya di antara kedua belah pihak. Ketika pada tahun 1998 dan 1999 terjadi konflik dan kekerasan komunal di beberapa daerah tetangga, Polres Kota Manado dan Polda Sulawesi Utara secara rutin menemui tokoh agama di masjid, gereja, dan pura, dan bersama-sama meningkatkan empati di kalangan komuitas agama.
  8. Meningkatkan perpolisian masyarakat (Polmas). Ada banyak aspek dalam Polmas yang memungkinkan peningkatan empati dan kepercayaan terhadap polisi. Seperti diketahui, trust itu sendiri adalah bagian penting Polmas. Selain itu, ada kemitraan polisi-masyarakat dalam rangka pemecahan masalah. Forum Kemitraan Polisi-Masyarakat (FKPM) memang banyak yang asal dibentuk dan kemudian tidak aktif. Tetapi, jika diaktifkan, FKPM dan berbagai kegiatannya amat potensial dalam rangka mendorong trust dan empati – baik empati polisi terhadap masyarakat, maupun empati masyarakat terhadap polisi.
  9. Mengadakan pelatihan empati bagi anggota Polri di berbagai level dan unit kerja. Ada keterampilan dan pengetahuan yang dapat dipelajari dan disosialisasikan kepada anggota polri, seperti kecerdasan emosi, manajemen konflik nirkekerasan, pendidikan kemajemukan dan multikulturalisme, dan komunikasi efektif. Pendidikan empati dapat, dan seharusnya, diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan polisi. Boleh juga dicoba pendidikan empati di SPN Negara Bagian Washington, Amerika Serikat, yang tahun lalu para peserta pendidikan diserang dengan pepper spray . (Samsu Rizal Panggabean).

Penulis : Gilang

Editor : Edi

Publish : Tahang

Klik Icon Untuk Sharing