Tribratanews.kepri.polri.go.id – Media sosial yang berubah fungsi menjadi asosial disebabkan oleh sebuah sumbu. Sumbunya adalah kebencian, defisit akal sehat, kemalasan melakukan konfirmasi dan verifikasi, fanatisme membabi buta, dan nafsu menghabisi lawan dengan mengerahkan semangat zero sum game.

Lawan wajib selalu keliru dan kawan pasti selalu benar. Tragisnya dalam rumusan ‘salah’ dan ‘benar’ acuannya bukan keluhuran akal budi dan atau dinegosiasikan di ruang publik terbuka dengan mengerahkan keluhuran komunikasi delibrasi, melainkan semata subjektivitas penafsiran atas sebuah teks atau konteks peristiwanya.

Satu sama lain saling menafsirkan dengan semangat pendakuan yang kelewat batas. Seolah yang harus dihadirkan ialah tesis dan antitesis dan menutup munculnya sintesis.

Ruang dialog itu sengaja digelapkan. Gotong royong yang disebut Bung Karno sebagai tema pokok Pancasila entah telah dikubur di mana, apalagi semangat musyawarah dan mufakatnya.

Bahkan pernah isu kuna dan primitif pribumi dan nonpribumi yang bertentangan dengan sila ketiga dan Inpres Tahun 1998 No 26 kembali digoreng untuk semakin mengentalkan sengketa bukan membangun roh kekitaan. Di sinipah pentingnya mengulik kembali literasi Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan.

#IndonesiaDamai
[13:02, 12/3/2018] Pk Erlangga: Cara Sederhana Memilah Hoaks

Setidaknya ada beberapa cara dan upaya yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi tekanan hoaks di ruang publik kita. Upaya-upaya tersebut bisa dilakukan oleh siapapun yang bersepancar di dunia daring.

Pertama, memeriksa ulang judul berita provokatif. Judul berita kerap dipakai sebagai jendela untuk mengintip keseluruhan tulisan. Namun tak jarang hal itu dimanfaatkan para penyebar berita palsu dengan mendistorsi judul yang provokatif meski sama sekali tak relevan dengan isi berita. Oleh karena itu, masyarakat informasi Indonesia atau Mafindo menyarankan pembaca untuk mengecek sumber berita lain agar informasi yang diterima bukan hasil rekayasa.

Kedua, meneliti alamat situs web.Dewan Pers memiliki data lengkap semua institusi pers resmi di Indonesia. Data yang terhimpun itu bisa digunakan oleh pembaca sebagai referensi apakah sumber berita yang dibaca telah memenuhi kaidah jurnalistik sesuai aturan Dewan Pers. Cukup mengetik nama situs berita di kolom data pers, pembaca dapat mengetahui status media yang mereka konsumsi berdasarkan standar Dewan Pers.

Ketiga, membedakan fakta dengan opini. Dianjurkan pembaca tidak menelan mentah-mentah ucapan seorang narasumber yang dikutip oleh situs berita. Sering kali hal itu luput dari pembaca karena pembaca terlalu cepat mengambil kesimpulan. Semakin banyak fakta yang termuat di sebuah berita, makin banyak kredibel berita itu.

Keempat, cermat membaca korelasi foto dan caption yang provokatif. Persebaran foto provokatif dengan imbuhan tulisan yang telah disunting. Cara termudah menguji keabsahan informasi dari foto yang diterima, pembaca bisa membuka Google Images di aplikasi penjelajah lalu menyeret foto yang dimaksud ke kolom pencarian.

Kelima, ikut serta dalam komunitas daring. Dari data yang ada, setidaknya ada empat komunitas yang getol memerangi berita palsu di Indonesia. Keempatnya itulah yang menjelma menjadi Mafindo. Dengan model crowdsourcing, komunitas itu berusaha menyaring dan mengklarifikasi informasi yang meragukan kebenarannya.

Penulis : Yolan

Editor : Edi

Publish : Tahang

Klik Icon Untuk Sharing