Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya cyber crime

Tribratanews.kepri.polri.go.id – Era kemajuan teknologi informasi ditandai dengan meningkatnya penggunaan internet dalam setiap aspek kehidupan manusia. Meningkatnya penggunaan internet di satu sisi memberikan banyak kemudahan bagi manusia dalam melakukan aktivitasnya, di sisi lain memudahkan bagi pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindak pidana.

Menurut Didik M. Arif Mansur dan Elisatris Gultom, munculnya kejahatan dengan mempergunakan internet sebagai alat bantunya lebih banyak disebabkan oleh faktor keamanan dari pelaku dalam melakukan kejahatan, masih kurangnya aparat penegak hukum yang memiliki kemampuan dalam hal cyber crime, serta rendahnya pengatahuan masyarakat akan penggunaan internet juga merupakan faktor adanya tindak pidana cyber crime. Adapun faktor-faktor yang berpotesi mempengaruhi adanya kejahatan cyber crime adalah faktor politik, faktor ekonomi dan faktor sosial budaya.

  1. Faktor Politik

Mencermati maraknya cyber crime yang terjadi di Indonesia dengan permasalahan yang dihadapi oleh aparat penegak hukum, proses kriminalisasi di bidang cyber telah terjadi dan merugikan masyarakat. Media cyber memberitakan tentang cyber crime yang dilakukan oleh orang Indonesia, sebagaimana kasus yang terjadi di beberapa kota Indonesia mengakibatkan citra Indonesia kurang baik dimata dunia dalam penegakan hukum cyber crime.

Penyebaran virus komputer dapat merusak jaringan komputer yang digunakan oleh pemerintah, perbankan, pelaku usaha maupun perorangan yang dapat berdampak terhadap kekacauan dalam sistem jaringan. Dapat dipastikan apabila sistem jaringan komputer perbankan tidak berfungsi dalam satu hari saja dapat menimbulkan kekacauan pembayaran maupun transaksi keuangan bagi nasabah.

Kondisi ini memerlukan kebijakan politik pemerintah Indonesia untuk menanggulangi cyber crime yang berkembang di Indonesia. Aparat penegak hukum telah berupaya keras untuk menindak setiap pelaku cyber crime, tapi penegakkan hukum tidak dapat berjalan maksimal sesuai harapan masyarakat.

Untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat tindakan pelaku cyber crime maka dikeluarkanlah UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE sebagai kebijakan politik pemerintahan Indonesia untuk menanggulangi maraknya pelaku cyber crime. Dengan perangkat hukum ini aparat penegak hukum tidak ragu-ragu lagi dalam melakukan penegakan hukum terhadap cyber crime.

  1. faktor eknonomi

Kemajuan ekonomi suatu bangsa salah satunya dipengaruhi oleh promosi barang-barang produksi. Jaringan komputer dan internet merupakan media yang sangat murah untuk promosi. Masyarakat dunia banyak yang memanfaatkan media ini untuk mencari barang-barang kepentingan perorangan maupun korporasi. Produk barang yang dihasilkan oleh industri di Indonesia sangat banyak dan digemari oleh komunitas internasional, seperti barang-barang kerajinan, ukiran dan barang-barang lain. Para pelaku bisnis harus mampu memanfaatkan sarana internet dimaksud.

Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia harus dijadikan pelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk segera bangkit dari krisis dimaksud. Seluruh komponen bangsa Indonesia harus berpartisipasi untuk mendukung pemulihan ekonomi. Media internet dan jaringan komputer merupakan salah satu media yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat untuk mempromosikan Indonesia.

  1. faktor Sosial budaya

Untuk faktor sosial budaya dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu :

  1. kemajuan teknologi informasi

pesatnya kemajuan teknologi informasi sungguh tidak dapat dibendung oleh siapapun di negeri ini. Semua orang membutuhkan teknologi, informasi, bahkan ‘levelitas’ kebutuhan itu terhadap orang-orang tertentu yang maniak informasi dianggapnya sebagai sebuah kebutuhan primer, setelah kebutuhan makan dan minum. Sehari tanpa informasi, diibaratkan sehari tanpa minum, oleh karenanya tak mengherankan kemudian terbentuklah sebuah komunitas baru dunia teknologi informasi (TI) yang memainkan peran penting bagi kesejahteraan manusia, termasuk pertumbuhan ekonomi dan politik. Budaya, dan aspek kehidupan yang lain.

  1. Sumeber daya manusia yang mengawaki

Antara teknologi informasi dengan operator yang mengawaki mempunyai hubungan yang erat sekali, keduanya tak dapat dipisahkan. Sumber daya manusia dalam teknologi informasi mempunyai peranan penting sebagai pengendali dari sebuah alat. Apakah alat itu digunakan sebagai sarana kebijakan untuk mencapai kesejahteraan umat manusia, ataukah alat itu akan dikriminalisasikan sehingga dapat merusak kepentingan orang lain atau bahkan dapat merusak kepentingan negara dan masyarakat. Teknologi sebagai hasil temuan dan pengembangan manusia kemudian dimanfaatkan, untuk perbaikan umat, namun disisi lain dapat membawa petaka bagi umat manusia sebagai akibat adanya penyimpangan. Di Indonesia sumber daya pengelola teknologi informasi ini cukup, namun sumber daya manusia untuk memproduksi atau menciptakan teknologi ini masih kurang. Penyebabnya ada berbagai hal, diantaranya kurang tenaga peneliti dan kurangnya biaya penelitian atau mungkin kurangnya perhatian dan apresisasi terhadap penelitian. Sehingga sumber daya manusia di Indonesia lebih banyak sebagai pengguna saja dan jumlahnya cukup banyak.

  1. Komunitas baru

Dengan adanya teknologi sebagai sarana untuk menciptakan tujuan, di antaranya media internet sebagai wahana untuk berkomunikasi, secara sosiologis terbentuklah sebuah komunitas baru di dunia maya yakni komunitas para pecandu internet yang saling berkomunikasi, bertukar pikiran berdasarkan prinsip kebebasan dan keseimbangan di antara para pecandu atau maniak dunia maya tersebut.

Komunitas ini adalah sebuah populasi gaya baru sebagai gejala sosial, dan sangat strategis untuk diperhitungkan, sebab dari media ini, banyak hikmah yang disa didapat. Dari hal yang tidak tahu menjadi tahu, yang tahu jadi semakin pinter, sementara yang pinter semakin canggih. Terjadinya perkembangan teknologi dan laju perkembangan masyarakat diketahui dengan cepat dan akurat, dan mereka saling bertukar pikiran serta dapat melakukan rechecking di antara mereka sendiri.

Upaya Pencegahan cyber crime

Menjawab tuntuntan dan tantangan komunikasi global lewat internet, Undang-undang yang diharapkan ( ius konstituendum ) adalah perangkat hukum yang akomodif terhadap perkembangan serta antisipatif terhadap permasalahan, termasuk dampak negatif penyalahgunaan internet dengan berbagai motivasi yang dapat menimbulkan korban-korban seperti kerugian materi dan non materi.

Penanganan cybercrime membutuhkan keseriusan semua pihak mengingat teknologi informasi khususnya internet telah dijadikan sebagai sarana untuk membangun masyarakat yang berbudaya informasi. Keberadaan undang-undang yang mengatur cybercrime memang diperlukan, akan tetapi apalah arti undang-undang jika pelaksana dari undang-undang tidak memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang itu dan masyarakat yang menjadi sasaran dari undang-undang tersebut tidak mendukung tercapainya tujuan pembentukan hukum tersebut.

Dengan di dikeluarkannya Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya penaggulangan kejahatan cyber crime.

Saran

Terjadinya kejahatan di dunia maya (cyber crime), banyak dilatar belakangi adanya faktor ekonomi, politik dan sosial budaya suatu bangsa, sehingga Pemerintah perlu mengadakan sosialisasi kepada pengguna internet mengenai apa-apa yang dilarang dan beretika dalam menjelejahi dunia maya agar dalam mengakses tetap mengindahkan norma-norma yang berlaku, karena bagaimapun peran masyarakat sangat penting dalam menciptakan budaya bangsa yang baik. (Disadur dari tulisan Aris .S)

Penulis : Tahang

Editor : Edi

Publish : Yolan

Klik Icon Untuk Sharing